Main Cast : Karel Susanteo
Jose Christian
Bryan Elmi Domani
Aku (nama Kamu)
Genre : Friendship, Fanfiction
Length : Chaptered
Author : @49_AnnidaAula
CHAPTER 1
Happy reading~~^^
Siang itu, matahari bersinar sungguh terik. Ke-enam remaja awal itu tengah menikmati makan siangnya di tengah kebun Omaku. Namun,ada yang kurang. Hmm.. Ya, tentu saja taki ada salah satu pesonel Super7, boyband cilik Indonesia yang terkenal dengan single lagunya yang berjudul 'Bestfriend Forever'.
Mama memintaku untuk mengajak Karel untuk makan siang bersama, namun Karel tak ada di antara anak-anak Super7. Dan di antara mereka, termasuk Jose-sahabatnya juga tak mengetahuinya. Karel menghilang misterius!
"Kayaknya itu Karel?!" Aku memincingkan sebelah mataku ke arah pohon palem, bukan. Di bawa pohon itu, ada Karel duduk gelisah dan termenung bertopang dagu. Aku menghampirinya. Tolakkannya sangat dingin!
Wajahnya pun pucat, matanya semaput. "Rel, makan siang yuk?" Ucapku duduk sejajar dengannya.
Namun, tiba-tiba dia menyentak, "Iya! Nanti aku nyusul! Bawel!!" Aku meninggalkannya sendirian dan mengadu pada Mami Erti-Mama Karel.
Malam itu, aku terjaga. Entah kenapa aku tak tenang, embusan angin begitu kencang. Aku lupa menutup pintu jendela kamarku. Seorang remaja lelaki mengetuk daun pintu kamarku.
"Masuk!" sontak aku membuatnya kaget.
Dia menghampiriku, "Belum tidur?" Ucapnya dengan suara bass. Aku menggeleng dan menatap bulan lebih dekat dengan teropong,
"Ada apa, BD? Mau tengok bulan juga?" BD mengambil alih teropong dan mulai asyik mengamati bintang. Sedangkan aku melanjutkan proyekku.
BD menatapku sekejap dengan wajah penuh sangsi dan kekhawatiran, namun ia cukup pandai menyembunyikan perasaannya. Seakan-akan ada yang terjadi di waktu mendatang.
"Boleh ganggu?" kata BD membuyarkan konsentrasiku.
"Of course" ucapku memberikan wink terbaik pada sepupuku ini.
BD mendeham berkali-kali mungkin dia gugup membicarkannya. Mungkin!
"Entahlah. Akupun bingung.. Sebenarnya, kamu juga tahu kan? Apakah ini tanda dari semuanya?" Aku mengerutkan dahi. Menjawab pertanyaan mengenai Karel rasanya mecekatkan tenggorokan.
BD mengusap kedua mata dengan punggung tangannya. Aku tahu dia baru saja menangis. Aku diam saja ingin mendengarnya melanjutkan pembicaraan.
Jam dinding menunjukkan pukul 11.35 malam. Sudah larut kami berbincang. BD sudah tak tahan membuka kedua kelopak matanya, dan mengerejapkan berkali-kali, begitupun Aku.
"Ya udah.. Happy sleep! Good night! ^^" Aku menutup daun pintu dan jendela, bersegera menuju alam mimpi. Mulailah tertidur di malam yang berbeda.
Angin kegelapan berembus amat kencang. Langit gelap seakan-akan runtuh. Hitam. Hitam. Hitam. Hanya hitam yang menghiasi kami hari ini. Aku masih tak menerimanya, sepertinya baru saja Aku kenal dengannya. Namun hari ini sudah pergi.
Waktu itu, 2 tahun yang lalu...
Kami bertemu di sebuah rumah pohon tua di tepi danau. Hingga lamanya, kami mencurahkan segala cerita dan rahasia di sini. Inilah tempat bersejarah bagi kami. Aku dan Karel mengawali persahabatan di sini.
"Aku bikin sesuatu, agar kita gak ingkar dan tetap saling menjaga rahasia. Janji?" Karel mengunjukkan jari kelingkingnya. Aku melingkari kelingkingnya.
"Janji kelingking! ^^" Ucapku trsenyum padanya.
"Dan sebagai tanda persahabatan, kita saling pakai kalung ini" Karel memberikanku kalung bersimbol sang sabit dan dia bersimbol sang surya, dia memakaikannya untukku.
"Waahh.. Bagus Rel! Tapi, kenapa harus bulan dan matahari? Hmm.. I know! Karena kita sama-sama menyukai benda galaxy kan?"
"Bulan dan matahari itu sama-sama dibutuhkan bumi. Meskipun berbeda waktu, tapi bulan dan matahari itu sangat penting satu sama lain. Nah, bulan bisa bercahaya karena apa?" Karel menembak pertanyaan padaku.
"Karena ada pantulan dari sinar matahari..?" Ucapku menengadah ke langit malam.
"Ya! Betul.. Kalau gak ada matahari, bulan gak bisa dapat cahaya kan? Lalu, siapa yang menerangi bumi kalau malam?" Karel mengumpan balik.
"Bulan.." jawabku pasti.
"Kalau siang?"
"Matahari. Kita mengulang pelajaran SD nih?" jawabku cengengesan.
"Semuanya saling melengkapi untuk bersama" kata Karel bijak. Tiba-tiba Karel terbatuk dan cukup parau. Aku segera memberinya air mineral.
"Rel, gak apa-apa kan? Duh!" Aku khawatir dengan sahabatku ini.
"Aku mau ini jadi rahasia Kita, Jose, BD, dan keluargaku. Selain itu, gak boleh ada yang tahu" Ucap Karel memegang dada kirinya. Lalu mengeluarkan sebutir obat tablet dari tempat sakunya, lantas menelannya.
Karel memperlihatkan banyak obat yang dibalut plastik transparan kecil miliknya,
"Sejak umur 3 tahun, aku mengidap penyakit jantung. Kalau aku batuk gini, kamu ambil obat ini. Aku selalu menyimpannya di saku. Jika aku lupa, tolong!" Ucap Karel terlihat pucat.
"Apa aku lupa memberi tahumu.. Sebenarnya Aku batuk-batuk begini kalau...." Belum selesai Karel berbicara, batuknya sudah memutuskan perkataannya.
"Sudahlah Rel. Jangan banyak cerita, Aku paham sekarang. Ayo kita pulang! Aku akan antar kamu.." Ucapku menuturnya.